Sebutan Aikidoka | Aikidowan


Mr. Manshur Idham [salah satu Badan Pendiri YIA] menjelaskan, karena Aikido bukan bela diri yang dipertandingkan, tapi merupakan sebuah seni bela diri murni mempertahankan kedamaian, cinta kasih terhadap sesama manusia, maka setiap peserta aikido lebih tepat disebut dengan Aikidowan [namun sebutan aikidoka mungkin lebih populer digunakan pada saat ini].

Lambang / logo Yayasan Indonesia Aikikai

Sesuai keterangan Mr. Imam Kurnain dan Mr. Gundanu [Yogyakarta - 6 Oktober 2013], lambang/logo Indonesia Aikikai sepenuhnya mencontoh kepada International Aikido Federation [IAF] di Jepang. Logo Indonesia Aikikai, bukanlah hasil ciptaan atau buatan tangan orang Indonesia, tetapi sepenuhnya logo tersebut melihat kepada IAF. Selanjutnya logo / lambang tersebut diubah dengan menggunakan warna merah putih, karena bendera Indonesia yang berwarna merah-putih. Setelah terdapat perubahan warna, maka logo tersebut akan memiliki makna sebuah organisasi Perguruan [Aikikai] Aikido yang berafiliasi kepada Hombu Dojo di Indonesia. Perbedaan lambang IAF dan logo YIA yaitu adanya warna biru-muda, dimana YIA menggunakan warna merah-putih. Mengapa saat itu kita mencontoh logo IAF, karena sepenuhnya YIA akan berafiliasi kepada Hombu Dojo Cq IAF. Mr. Manshur Idham juga menjelaskan bahwa pada saat itu yang meneliti dan mencari logo untuk YIA dilakukan oleh Mr. Gunawan Danurahardja.









Opini RGS : kami berpendapat bahwa logo ini-pun tidak bisa di-claim atau dinyatakan sebagai logo hasil karya cipta perorangan, bahkan logo tersebut tidak bisa didaftarkan untuk diterbitkan sertifikat hak atas merk, karena hampir semua negara-negara penyelenggara kegiatan aikido, yang terafiliasi kepada International Aikikai Foundation, juga menggunakan bentuk logo tersebut dengan perubahan warna disana-sini, sesuai kebutuhan organisasi mereka
[atau gambar logo tersebut bisa disebut sudah milik umum].

Aikikai | rgs-aikikai | rgs-aikido-dojo



Kata Aikikai mengartikan sebuah sekolah atau perguruan seni bela diri Aikido, yang berpusat di Tokyo Jepang, dikenal dengan nama Aikikai Foundation. Perguruan ini dipimpin oleh seorang Doshu [atau pemimpin Aikido dunia] yang juga sekaligus merupakan pewaris dari pencipta Aikido, yang saat ini telah menempuh 2 [dua] pewaris yaitu :
O-Sensei [Morihei Ueshiba] : Bapak Pencipta atau penggubah Aikido
Kishomaru Ueshiba
Moriteru Ueshiba : Doshu atau pemimpin Aikido saat ini
Apabila kami pada halaman ini menggunakan kata rgs-aikikai maka maksudnya adalah sebuah tempat pendidikan seni-bela diri aikido yang berafiliasi kepada International Aikikai Foundation [atau Hombu Dojo]. Di Indonesia kami [rgs-aikido-dojo] berafiliasi atau menginduk kepada organisasi nasional yang bernama Yayasan Indonesia Aikikai. Sedang makna rgs-aikido-dojo hanyalah sebuah penegasan nama sebuah tempat berlatih Aikido, sebagai pembeda dengan tempat berlatih seni-bela diri lain yang juga berasal dari Jepang. 
RGS itu sendiri memiliki makna kami sendiri [Robaga Gautama Simanjuntak], selaku orang yang mendirikan / merintis RGS-Aikido-Dojo, dimana kami juga telah mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan seni bela diri Aikido, menyukai kegiatan dan secara terus menerus berlatih aikido, mengikuti kegiatan pelatihan seni bela diri aikido semata-mata sebagai salah satu alternatif pilihan berolah-raga, selain mempelajari makna / filosofi aikido itu sendiri yang sangat indah dan bagus diterapkan bagi kami, sebagai orang yang dalam kesehariannya menjalani profesi Advokat.

Budo dalam Aikido


Budo pada awal sejarahnya berawal dari adanya sebuah pertempuran, untuk pertama kalinya berkaitan dengan pertanyaan praktis, bagaimana persiapan fisik dan psikologis untuk menghadapi sebuah konflik atau pertempuran, dan tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi pertempuran, bagaimana seseorang dapat memenangkan pertarungan atau pertempuran? Bagaimana seseorang harus melindungi dirinya, keluarganya, klan atau negaranya selama ia diserang musuh [atau selama ia menghadapi serangan dari luar]. Diantara berbagai pertanyaan ini, ada sebuah hal yang mungkin tak bisa dihindari yaitu kematian dan kehidupan. Permasalahan ini penting untuk dibahas dan diperhatikan dalam sudut pandang emosional dan spiritual, sebagai sebuah hal yang diperhatikan dalam Budo melalui latihan-latihan yang dilakukannya ; pertempuran secara nyata dipercaya bahwa hal tersebut hanya dianggap sebagai pelatihan secara materiel. Saat ini banyak pandangan mengenai beberapa bentuk Budo, namun perlu dipertimbangkan, sebuah pertanyaan apakah kita dapat benar-benar mempelajari Budo tanpa perjuangan? Apakah ada seni-bela diri yang menghadapi konflik tanpa menempuh [melewati] sebuah pertarungan?

Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus memiliki pandangan lebih dari sekedar perang dan kekerasan, dari latar belakang histori Budo itu sendiri. Peranan yang dilakukan oleh agama dan seni dalam pengembangan Budo adalah sangat penting. Berdasarkan fakta, bahwa pelatihan Zen, semakin sering dijadikan metode bagi para prajurit untuk mengidentifikasi masalah ketakutan dan kematian, hal ini menunjukan bahwa jawaban terhadap masalah  

Fakta bahwa pelatihan Zen sering menjadi metode untuk prajurit untuk mendekati masalah dari ketakutan akan kematian, menunjukkan bahwa jawaban atas masalah yang diluar kekuasaan / kekuatan manusia, bisa diperoleh dari tempat lain [dari kekuasaan lain] selain di medan peperangan. Pelatihan jenis ini sesungguhnya tidak tergantung dengan keharusan adanya sebuah pertempuran, dan tidak terbatas berlaku hanya kepada prajurit saja. Pencipta Aikido memperoleh pengalaman yang luar biasa diluar kekuasaan manusia [transenden] ketika ia di Manchuria, yang merupakan perpaduan dari latar belakang pelatihan seni bela dirinya dan agamanya Shinto. Ada berbagai banyak contoh dari pengalaman orang walau mereka terlibat dalam disiplin spiritual dan yang bersifat seni [artistik], mengalami pengalaman peristiwa diluar kemampuan manusia seperti kematian dan kehidupan. Perang dan kekerasan merupakan hal yang tak diragukan dalam hal memperoleh pengalaman kematian dan kehidupan, namun perlu difahami bahwa ini bukanlah sebuah kondisi dimana seseorang akan mengalami pencerahan terhadap pemahaman kehidupan dan kematian.

Seseorang yang mempelajari Budo harus pula mengingat, bahwa sebuah kreativitas dapat pula menyebabkan kehancuran pembangunan. Kita harus memahami dengan jelas mengenai apa yang kita lakkukan, harus serius, dan harus bersikap dan berfikir positif pada saat [momentum] yang sama. Selain, kita harus terus menjaga seni-bela diri kita secara wajar dan efektif, kita juga harus mencoba melihat dari sudut pandang sosial yang lebih kreatif dari sudut pandang latihan kita sendiri. Setiap orang pada hakekatnya memiliki alasan tersendiri untuk mempelajari seni bela diri. Beberapa orang mungkin hanya ingin melatih seni membela diri, sedang yang lain tertarik untuk mengembangkan rasa percaya diri mereka sehingga dapat menikmati pengalaman hidup yang lebih luas. Seorang pengajar memiliki cara sosial dengan menarik siswanya dalam suasana kekeluargaan, maksudnya, agar dapat memulai pelatihan Budo dapat diterima. Walaupun mereka [siswa] tidak menerima tujuan dari sebuah pelatihan, namun pada momen tertentu seorang siswa pada akhirnya harus berurusan dengan permasalahan tentang hal diluar kekuatan manusia [mis. kehidupan dan kematian], karena dalam beberapa fakta kematian dan kehidupan harus dihadapi, yang jika kita melakukan ini artinya kita berlatih Budo.
Artikel sederhana, diperoleh dari beberapa sumber di internet
Robaga Gautama Simanjuntak - RGS Dojo - 28 April 2013



-->

Disiplin Dalam Memberi Hormat


Disiplin ini penting untuk di perhatikan dan di laksanakan oleh setiap aikido sejak semula ia tergabung masuk menjadi anggota  sebuah dojo, yaitu dalam hal memberi penghormatan [atau memberi hormat]. Penghormatan disini memiliki pengertian yang sama dengan kata menghormati dalam bahasa indonesia sehari-hari, memberi rasa hormat berkaitan dengan budi-pekerti seperti  yang diajarkan di sekolah atau-pun dirumah. Berbagai macam  penghormatan harus di lakukan secara disiplin oleh setiap aikidoka berlatih aikido di dojo, melatih disiplin dalam memberi hormat, akan memberi dampak positif bagi setiap aikidoka dalam kehidupan [interaksi] mereka di masyarakat, dimana setiap kali seorang aikido dilatih memberi hormat, maka ia akan mudah pula memberi rasa hormat kepada orang lain secara spontan. Berbagai-macam memberi hormat dalam berlatih aikido antara lain ;

Penghormatan Terhadap Dojo [tempat berlatih]
  • Memberi hormat kepada dojo sebaiknya dilakukan pada saat seorang akan masuk ke tempat latihan [biasanya menuju ke sebuah arena yang telah di letakan tatami matras] yang dilakukan dalam sikap [posisi] seiza yang dilanjutkan dengan membungkukkan badan, mengarah ke posisi gambar atau foto O-Sensei. Memberi hormat ke dojo akan menambah rasa nyaman ketika kita akan berlatih dan melakukan tehnik-tehnik yang akan di ajarkan oleh seorang guru di dojo. Memberikan rasa hormat kepada tempat berlatih sama sekali tidak memiliki pengertian mendewakan atau mengkultuskan tempat berlatih tersebut, pengertian memberi rasa hormat terhadap dojo, analoginya seperti, apabila menyayangi sebuah tempat, maka secara otomatis andapun akan memberi sikap baik dan anda-pun akan semakin merasa senang ditempat tersebut. Memberi rasa horma disini, bisa diwujudkan langsung misalnya dengan cara anda secara disiplin tetap menjaga kebersihan, menjaga keutuhan barang-barang yang ada pada tempat tersebut, melakukan perawatan serius dan sebaik-baiknya, yang pada akhirnya tempat ini akan terasa sangat nyaman digunakan, bayangkan apabila terjadi sebaiknya, maka andapun akan menemui rasa ketidaknyamanan yang luar biasa yang dan akhirnya enggan untuk berlatih di dojo. Memberi hormat ke dojo tidak hanya sekedar melakukan seiza dan membungkukkan badan saja, disini kita harus bersikap aktif untuk mewujudkan penghormatan, walau melalui cara sederhana dalam menjaga kebersihan, merawat keutuhan dojo, senatiasa memberikan suasana hati penuh kerelaan, dan ketika melakukan dengan penuh kesungguhan bukan pura-pura, bukan karena terpaksa, bukan pula anda melakukan penghormatan aktif semata-mata karena mengharapkan adanya imbalan sejumlah uang sebagai kompensasi pengganti. Disiplin memberi hormat kepada dojo akan menimbulkan kemampuan anda berintraksi secara cepat ketika anda berkunjung pada latihan pada dojo lain, ataupun ketika anda menghadiri kegiatan seminar, latihan bersama aikido di tempat lain, kita tidak akan mengalami kesukaran [cepat menyesuaikan diri] ketika kita harus berintraksi pada sebuah dojo yang baru anda kunjungi pertama kali, karena pada setiap dojo pasti akan ada perbedaan dengan dojo yang lain. Dalam prakteknya, pada kebanyakan dojo-dojo di Indonesia, pemberian hormat ini akan memiliki kebiasaan yang berbeda-beda, dan sebaiknya pemberian hormat dalam posisi seiza dilakukan pada saat masuk atau-pun keluar dari sebuah dojo.

Disiplin dalam aikido

Dalam berlatih aikido memiliki kedisiplinan yang sangat keras dan wajib dijunjung tinggi bagi setiap anggota yang mengikuti kegiatan latihan [berlatih] aikido. Kedisiplinan yang sangat keras disini maksudnya bukan kedisiplinan keras untuk menghancurkan atau menyakiti orang lain, namun kedisiplinan keras untuk terus menjaga dan mengasah rasa kasih sayang diantara sesama teman berlatih, begitu pula dalam kehidupan sehari-hari disiplin keras untuk mencintai sesama manusia.

Hari ini ada 2 hal kedisiplinan yang saya sampaikan, antara lain :
1/ disiplin dalam mengucapkan terimakasih
2/ disiplin dalam memberikan pengampunan atau memberi maaf
1/ contoh kedisiplinan untuk mengucapkan terimakasih, misalnya pada saat kita berlatih, kita akan berlatih berpasangan. Ketika berpasangan kita [nage] akan melakukan satu atau beberapa buah teknik, misalkan teknik kuncian tangan kepada sesama teman berlatih kita. Teknik kuncian biasanya [karena tak sengaja] maka kuncian ini akan menimbulkan rasa sakit kepada teman kita berlatih. Teknik kuncian yang menyakitkan tentu akan menimbulkan rasa yang tidak meng-enakan bagi teman / pasangan kita berlatih. Oleh karenanya nage [si-pelaku teknik kuncian ini] harus dengan sungguh-sungguh mengucapkan rasa terimakasihnya yang mendalam kepada teman belatih, karena dengan adanya teman ini seorang nage dapat melakukan teknik. Sebaliknya jika tak ada teman berlatih, tentu seorang nage tidak akan mampu untuk melatih sebuah teknik apalagi menyelesaikannya. 
Pemberian ucapan terimakasih ini harus terlahir atau berasal dari hati yang paling mendalam, bukan pura-pura, atau sekedar melakukan ucapan terimakasih [domo arigato gozaimashita] atau dalam bahasa Indonesia kita biasa menyebutnya dengan Terimakasih Banyak. Mengapa kita harus mengucapkan terimakasih dari hati yang mendalam dan secara disiplin, karena dalam berlatih Aikido, sama sekali tidak diperkenankan teman latihan menjadi suatu obyek coba-coba, walaupun dalam pelaksanaannya seorang pemula harus mencoba sebuah teknik yang belum pernah ia lakukan, namun latihan ini tetaplah bukan bersifat coba-coba, yang menempatkan seorang uke sebai "obyek percobaan". Ini sebuah pemikiran atau cara berlatih yang salah, karena latihan jenis ini akan menimbulkan hasil yang sia-sia [tak berguna].

2/ contoh disiplin dalam memberikan pengampunan atau memberi maaf, harus dilatih sejak dini [sejak awal] seorang aikidoka masuk dan bergabung pada sebuah dojo. Memberikan maaf harus pula berasal dari hati yang sangat mendalam. Ketika sebuah pasangan mengakhiri / menyelesaikan sebuah teknik, maka dalam posisi seiza [keduanya duduk] akan memberikan hormat [rei], dan disini pula seorang uke yang telah memberi hormat sekaligus memberikan maaf kepada pasangannya, dan pemberiaan maaf ini harus pula dengan ketulusan hati yang mendalam. Pemberian maaf, tidak hanya dilakukan pada saat rei, namun harus pula seketika dilakukan ketika ia bergantian melakukan teknik. Jika seorang uke tidak cepat memberikan maaf kepada nage secara disiplin, maka akan muncul rasa marah, yang akibatnya akan muncul tindakan pembalasan, ketika seorang uke menjadi nage. Sikap ini sangat tidak dibenarkan bagi setiap aikidoka yang berlatih pada sebuah dojo. Uke yang kemudian menjadi nage, harus telah memberikan maaf, walaupun pada saat ia menjadi uke telah terjadi ketidak-sengajaan yang mengakibatkan timbulnya rasa sakit ketika berlatih.

Apa makna kedua pengertian diatas dalam kehidupan sehari-hari?
Makna atau penerapan kedua pengertian diatas sesungguhnya sangatlah sederhana. Dengan disiplin mengucapkan terimakasih artinya kita akan pula disiplin mengucapkan terimakasih kepada siapapun orang yang telah menolong kita, baik itu pertolongan yang diminta atau-pun tidak diminta. Adalah sungguh baik, bagi setiap orang yang dengan ketulusan hati mengucapkan terimakasih kepada sesama manusia.
Demikian pula makna disiplin dalam memberikan maaf secara mendalam, hal ini akan melatih kita untuk senantiasa memberikan maaf kepada orang lain yang sengaja atau tak sengaja telah menyakitkan atau menyinggung perasaan atau tubuh kita. Pemberian maaf yang mendalam dalam dojo akan melatih kita menumbuhkan sikap sportif dalam kehidupan sehari-hari, karena dengan memberikan maaf tentu kita tidak akan memperdebatkan / mempermasalahkan hal-hal yang telah terjadi dan berlalu.

Demikian, selintas tulisan sederhana yang saya tulis, sebagai sebuah pemikiran sederhana dalam hal mengucapkan terimakasih & memaafkan, semoga bermanfaat.

Ebook : Aikido and the dynamic sphere

Ebook : Aikido and the dynamic sphere
A Westbrook & O Ratti - 1970
Rp. 50.000,- [media CD] - tidak termaksud ongkos kirim
Jumlah 358 Halaman ; Scan *.pdf
Untuk pemesanan silahkan kirim data pemesan :
Nama Lengkap :
Alamat Penerimaan CD :
Kode Pos :
Email :
No. HP :
Pembayaran dilaksanakan terlebih dahulu via BCA
No. Rekening Penerima Akan Disampaikan Kemudian
Setelah Form Pemesanan Diajukan
Pemesanan silahkan disampaikan melalui
email : rgsimanjuntak@gmail.com
SMS : 087879021888

 

Etika dan kebiasaan berlatih dojo

Dojo Etiquette and Customs

  1. Proper manners and rules should be obeyed, while following the instructions of one's teacher.
  2. Practice should be serious and sincere, but should not inflict an injury on others.
  3. All should participate in cleaning following practice, in order to insure a clean place of training.
  4. There should be no smoking in the dojo at anytime.
  5. Harmony should be respected, and the practice should be bright.
  6. Practice under the influence of alcohol should be avoided.
  7. People observing practice should respect the rules and order of the dojo.
  8. All accidents and/or injuries resulting from practice are the responsibility of the individual member.
Sumber : http://www.aikikai.or.jp/eng/index.htm
Terjemahan tidak resmi oleh Aikidoka Bambang Ali Utomo

Etika dan kebiasaan berlatih dojo
  1. sikap yang baik dan peraturan harus dipatuhi, saat mengikuti instruksi seorang guru
  2. latihan harus dilaksanakan secara serius dan sepenuh hati, namun tidak boleh menimbulkan cidera kepada orang lain.
  3. semua pihak harus berperan serta dalam pembersihan setelah latihan, untuk menjamin kebersihan tempat latihan
  4. tidak boleh merokok di dojo diwaktu apapun
  5. keselarasan harus dihormati, dan latihan haruslah dalam suasana riang
  6. latihan dibawah pengaruh alkohol harus dihindari
  7. orang-orang yang menonton latihan harus menghormati aturan dan tata tertib dojo
  8. semua kecelakaan dan/atau cidera akibat latihan menjadi tanggungjawab anggota individu
Semoga bermanfaat.

Afiliasi : Organisasi Aikido atau Gurunya?



Pertanyaan mengenai organisasi aikido dan gurunya sering menjadi diskusi menarik diantara sesama aikidoka, apakah dia akan memilih bergabung kepada organisasi aikido atau memilih kepada Guru besar [Shihan]. Sesungguhnya hal ini tidak perlu terjadi perdebatan tak menentu, apabila kita menyadari esensi atau pesan-pesan penting yang telah disampaikan oleh Hombu [AIkikai Foundation] melalui Ketentuan Internasional Hombu atau International Hombu Regulation Tahun 2000 [IHR-2000].
Fenomena ini mencuat pasca tahun 2000, yang menurut kami sangat wajar, seiring dengan diberlakukannya IHR pada tahun 2000, yang salah satu ketentuannya mengatur bahwa Hombu merestui bahwa dalam 1 negara bisa terdapat lebih dari 1 organisasi yang diakui oleh Hombu. Karena sebelumnya, berdasarkan IHR-1983 Hombu memberikan pengakuan hanya kepada 1 Organisasi dalam 1 Negara, dimana Indonesia sempat mengalami ketentuan ini.
Seiring dengan derasnya minat masyarakat [dunia] untuk bergabung dengan seni-bela diri Aikido, hal ini tentu mengakibatkan bahwa penerapan ketentuan 1 negara hanya 1 organisasi aikido dipandang sudah tidak efektif / tidak bisa diterapkan, pada akhirnya hombu mengeluarkan IHR-2000 yang membuka kemungkinan untuk memberikan pengakuan terhadap lebih dari satu organisasi pada 1 negara.
Pada tahun 1997-pun saya pernah mempertanyakan / mengklarifikasi ke Hombu mengenai adanya lebih dari 1 organisasi pada 1 negara [saat itu saya mengirimkan surat kepada Mr. Fujita Shihan - Sekretaris Jenderal Aikikai Foundation] - dan saat itu Aikikai Foundation tidak bisa memberikan jawaban yang pasti atas pertanyaan yang saya ajukan, namun pada tahun 2001 [setelah saya selesai menjabat Sekretaris Jenderal Yayasan Indonesia Aikikai] baru saya memperoleh jawaban dengan dikirimkannya IHR-2000 kepada saya.
Perubahan/dinamika ini, sesungguhnya sangat berpotensi memunculkan friksi diantara sesama simpatisan maupun aikidoka Indonesia karena tidak memahami esensi dari IHR-2000 dimaksud, karena hingga saat itu Aikidoka Indonesia benar-benar mematuhi apa yang diperintahkan oleh Hombu berdasarkan IHR-1983 [fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, bahkan terjadi pula pada negara-negara lain]. Namun sangat disayangkan, karena pada tahun 2000 [mungkin] kita tidak menyadari dan mengantisipasi perubahan ini, agar tidak muncul adanya "gejolak" diantara sesama aikidoka.
Hombu melalui IHR-2000 secara tegas hanya memberikan 1 cara pengakuan yaitu pengakuan terhadap Lembaga / Badan atau Organisasi. Namun dengan terjadinya globalisasi, tidak tertutup kemungkinan bahwa seorang Shihan [dari suatu negara, yang sudah tentu telah tergabung dalam 1 orgaisasi yang diakui oleh Hombu], menyebarluaskan ajaran aikido ke seluruh dunia atau membuka cabang organisasi pada negara-negara lain. Misalnya seorang Shihan memiliki organisasi yang telah diakui hombu, melalui murid-muridnya atau shihan itu sendiri menyebarluaskan aikido ke seluruh dunia. Dimana penyebarluasan kegiatan Aikido inilah yang turut mendukung terciptanya atau lahirnya cabang atau organisasi aikido baru pada suatu negara di seluruh dunia termaksud di Indonesia.
Keleluasaan seorang shihan untuk menyebarluaskan aikido di seluruh dunia, hal ini tidak mengartikan bahwa Shihan bisa menerbitkan dan menandatangani ijazah yudansha. IHR-2000 secara tegas mengatur bahwa :
1. Penerbitan ijazah [yudansha] hanya dilakukan oleh hombu dan hanya ditandatangani oleh Doshu [ketua Aikido Dunia], atau dengan kata lain hombu tidak mendelegasikan penerbitan dan penandatanganan ijazah kepada organisasi yang telah diakui oleh hombu dojo ataupun kepada Shihan ; dan selanjutnya diperintahkan agar
2. Antar sesama Aikidoka pemegang sertifikat yudansha yang diterbitkan Honbu dan ditandatangani oleh Doshu, harus saling menghormati, atau dari mana-pun asal-usul aikidoka itu tergabung pada suatu organisasi, maka hombu tetap mengakui yang bersangkutan sebagai anggota Aikikai Foundation [Aikido World Headquaters/Pusat Aikido Dunia] sepanjang ia pemegang sertifikat resmi yang diterbitkan oleh hombu dan ditandatangai Doshu.
Dari uraian ini dapat dimengerti bahwa setiap orang diperkenankan untuk berlatih aikido dengan cara bergabung pada suatu organisasi yang telah mendapat pengakuan dari Aikikai Foundation atau dengan Shihan dari Organisasi aikido manapun, dan hombu melalui aturan ini merestui terjadinya 'mutasi' bagi setiap Aikidoka untuk bergabung dan berlatih pada suatu dojo manapun di dunia [amati paspor yudansha yang berlaku di seluruh dunia], fakta ini jika direnungkan sesungguhnya bermaksud untuk memanifestasikan Universalitas Aikido bagi seluruh umat manusia di dunia dengan berpusat kepada Aikikai Foundation. Jadi salah satu esensi penting dari IHR-2000 yang berkaitan erat dengan kegiatan pelatihan seni bela diri Aikido di Indonesia antara lain :
1. Dalam aikido tidak ada larangan bagi seorang untuk berpindah atau menambah keahliannya dengan belajar pada shihan lain di tempat manapun atau diseluruh dunia [menurut saya ini adalah hak asasi manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya melalui pendidikan dan pembinaan seni bela diri aikido].
2. Selama ia adalah yudansha pemegang sertifikat yang diterbitkan oleh Aikikai Foundation [hombu dojo], maka setiap aikidoka harus menghormati yang bersangkutan adalah sebagai Yudansha anggota Aikikai Foundation ;
3. Sebaliknya apabila kita bersikap negatif atau menghina keabsahan orang tersebut selaku yudansha atau-pun organisasi Aikido dimana ia bernaung, sesungguhnya kita telah bersikap tercela terhadap diri sendiri, tingkatan Aikido yang telah diraih dan juga kepada Doshu / ketua aikido dunia.
RGS Aikido Club |3 September 2010

Tegatana [tangan pedang]

Tangan dalam Aikido digunakan seolah-olah [seperti] sedang memegang pedang. Aikido adalah seni bela diri yang tidak bersenjata, tetapi dalam bersikap, diasumsikan seperti seorang pemain pedang, yang siap untuk mengayunkan pedang tajam ke atas atau ke bawah. Namun perumpamaan tangan pedang didalam Aikido bukan merupakan suatu senjata untuk memotong lawan, namun semacam alat yang digunakan dalam suatu aktivitas untuk mengontrol dan mengelola Ki. Jari-jari tangan terentang luas sebagai fasilitas untuk konsentrasi dan ekspresi energi yang kita miliki [ki]. Dalam aikido kita akan menggunakan tangan pedang untuk segala aktivitas nyata untuk menerapkan Ki. Kesepuluh jari tangan kita dialirkan ki [energi], hal ini mengindikasikan adanya kesatuan mendalam antara pikiran, teknik dan tubuh.

Memorandum Morihei Ueshiba

“Memorandum Morihei Ueshiba” Kutipan dari Majalah The Aikido Headquaters, Tokyo Vol. 32 No.2 - 1995 Di dalam Aikido diperlukan suatu hasil yang mendalam antara gerakan tubuh dan fisik secara bersamaan. Aikido merupakan manifestasi diri manusia dan harmonisasinya terhadap segala sesuatu yang ada dimuka bumi, yang sangat menarik untuk dicintai. Dalam suatu contoh yaitu, manusia harus menyadari betapa pentingnya tercipta suatu perdamaian di muka bumi ini. Bahwa kita lahir di dunia harus saling mencintai antar sesama umat manusia berdasarkan ketulusan hati yang mendalam. Maksudnya adalah, jika terjadi keadaan dimana seseorang menjadi sangat marah terhadap dirimu, maka kamu harus dapat menetralisir kemarahan orang tersebut, atau dengan kata lain, kebencian seseorang harus dapat kita harmonisasikan berdasarkan cinta kasih. Seseorang yang mudah sekali untuk marah / berkelahi, maka orang ini bukanlah Aikidoka sejati. Di dalam hidup, kita harus mengutamakan cinta kasih sebagai tiang utama dalam kehidupan bermasyarakat, dan hal ini dapat pula dilakukan melalui latihan-latihan terhadap tubuh dan semangat yang terkandung dalam Seni Bela Diri Aikido. Aikido dalam satu sisi dimaksudkan juga untuk memberikan keamanan dalam hidup manusia. Melalui jalannya, gerakan-gerakan dalam Aikido selalu mencegah agar tidak terjadi cidera di antara sesamanya dalam berlatih. Menghormati sesama manusia juga merupakan salah satu filosofi dalam Aikido, dan secara implisit makna “Ai” di dalam “Aikido” terkandung pengertian Cinta Kasih. Di dalam pembahasannya, Aikido bukanlah semata-mata hanya untuk bertarung / berkelahi dan saling mengalahkan yang hanya didasarkan pada kekuatan dan persenjataan belaka, namun, lebih baik dari pengertian itu, bahwa Aikido merupakan jalan untuk mengharmonisasikan diri sendiri dengan dunia dan membawa kehidupan manusia ini dalam suatu keluarga besar yang hidup secara harmonis (serasi) dan damai, sebab jalan UTAMA dari semangat Aikido adalah Saling Mengasihi dan Mencintai antar sesama umat manusia.

Disadur oleh :
Robaga Gautama Simanjuntak, Juli 1996

Karya tulis bagi Mudansha Aikido [setingkat kyu]

Mungkin suatu hal yang unik bagi peserta ujian kyudansha [setingkat kyu-6, 5, 4, 3, 2, dan 1] disyaratkan untuk mempersiapkan makalah atau karya tulis sederhana. Hal ini memang tidak diatur secara khusus dalam Indonesia Aikikai, kegiatan ini bersifat pilihan yang boleh dilaksanakan atau tidak dilaksanakan oleh si-penguji.
Walau demikian, saya [pribadi] cenderung untuk menerapkan kebiasaan menulis makalah ini, terlebih bagi seorang aikido-ka yang telah memiliki usia remaja atau dewasa. Adapun latar belakang syarat-tambahan ini bukan bertujuan untuk mempersulit seorang Aikidoka agar lulus ujian, namun hanya untuk mengenal seberapa jauh seseorang telah memahami benar mengenai ajaran ataupun filosofi yang terkandung dalam Aikido atau-pun hal-hal kecil lain yang sesungguhnya sangat penting untuk difahami oleh seorang mudansha. Makalah ini haruslah dibuat oleh semua peserta ujian kyu [perorangan] dengan tema atau judul makalah bebas, yang terpenting adalah ulasan pemahaman bagi mudansha terhadap aktivitas seni bela diri yang dipelajarinya. Persyaratan lain adalah bersifat sederhana :
  1. makalah ini cukup dibuat satu lembar
  2. boleh diatas kertas A.4 atau 1 lembar kertas folio
  3. boleh ditik dengan satu-setengah spasi ataupun ditulis tangan rapih sehingga mudah terbaca
  4. menyebutkan nama penulis, asal dojo, dan tingkat ujian kyu yang dituju
  5. tanggal dibuatnya makalah
Makalah ini ditujukan kepada Ketua Dewan Guru [Indonesia Aikikai] melalui team / penguji yang memimpin penyelenggaraan ujian dimaksud. Berbagai judul bebas yang bisa dipilih atau bisa dijadikan inspirasi awal bagi kyudansha, dalam memilih makalah antara lain :
  1. apa arti aikido [AI KI DO] ?
  2. apakah arti dan fungsi sensei menurut anda ?
  3. apakah arti dan pengertian dojo ?
  4. apa yang anda ketahui mengenai Indonesia Aikikai ?
  5. apakah pengertian harmoni menurut anda setelah berlatih aikido?
  6. apa makna / pengertian REI menurut saudara/i selaku aikidoka?
  7. apa kendala anda selaku anggota dojo didaerah [Yogyakarta] setelah berlatih Aikido.
  8. kedisiplinan apakah yang anda fahami setelah berlatih Aikido?
  9. apakah aikido dipertandingkan ? mengapa?
  10. Apakah arti Doshu?
  11. Siapakah nama Doshu saat ini?
  12. Apakah arti Hombu?
  13. Aikido itu berasal dari negara mana? Siapakah pencipta Aikido
  14. Apakah yang dimaksud dengan Senpai, Kohai ?
  15. Bagaimanakah urutan barisan dalam suatu dojo pada saat duduk [seizha] khususnya ketika latihan akan di mulai atau akan ditutup? apakah maknanya?
  16. Apakah maksud Ai [cinta] dalam kata aikido?
  17. Mengapa dalam aikido lebih banyak menggunakan tangan? apakah kita bebas melakukan serangan dengan kaki?
  18. Apa yang dimaksud dengan Ken, Jo dan Tanto? mengapa pada saat kita latihan alat ini hanya terbuat dari kayu?
  19. Apakah anda tahu apa perbedaan International Aikikai Foundation & International Aikido Federation?
  20. Apa yang anda ketahui mengenai Yayasan Indonesia Aikikai?
Berbagai tema diatas masih bisa dikembangkan lebih luas, Dengan adanya kewajiban menulis makalah ini akan makin memudahkan seorang mudansha [anggota setingkat kyu] memahami kebiasaan apa saja yang harus diperhatikan serta memaksa yang bersangkutan untuk melakukan riset-riset awal dan khusus atas pertanyaan yang dianggap sangat penting untuk difahami bagi dirinya sendiri dalam mempersiapkan dirinya selaku Yudansha Aikido Indonesia.

Salam sejahtera : Robaga Gautama Simanjuntak
Jakarta - 16 November 2009